Penjelasan Data Kehilangan Tutupan Pohon 2025 dari Global Forest Watch

29 Apr 2026||11 menit
Languages
Screenshot 2026-04-28 144619

Data kehilangan tutupan pohon terbaru dari WRI dan lab GLAD University of Maryland (UMD), tersedia di Global Forest Watch (GFW), menunjukkan bahwa kehilangan hutan primer tropis yang lembap melambat pada tahun 2025, meskipun kemajuannya tidak merata di seluruh daerah tropis. Bagaimana temuan ini dibandingkan dengan perkiraan deforestasi lainnya? Berikut yang harus Anda ketahui tentang data baru. 

Apa yang diukur dalam kehilangan tutupan pohon?

Untuk membandingkan temuan dari data kehilangan tutupan pohon dengan perkiraan lainnya, penting untuk memahami apa yang diukur oleh data kehilangan tutupan pohon, dan bagaimana hal ini berbeda dari sistem pemantauan lainnya. 

Data kehilangan tutupan pohon dari UMD mencatat gangguan pada tutupan pohon — yang didefinisikan sebagai vegetasi kayu yang setidaknya setinggi lima meter — pada resolusi 30 meter secara global selama tahun kalender 2001-2025. Ini termasuk kematian atau penebangan pohon di hutan alam primer dan sekunder, serta di hutan yang ditanami atau perkebunan tanaman pohon. Selain pemantauan global, di daerah tropis, kami menggunakan data hutan primer tropis yang lembap sebagai data acuan awal untuk melihat kehilangan hanya di dalam hutan hujan tropis alami yang matang, tidak termasuk perkebunan, tanaman pohon, dan hutan sekunder muda — baca lebih lanjut tentang alasannya. Kehilangan tutupan pohon dapat disebabkan faktor manusia atau alam serta dapat bersifat permanen atau sementara. Baca lebih lanjut tentang data kehilangan tutupan pohon, termasuk bagaimana peningkatannya dari waktu ke waktu, di Global Forest Review

Apa saja yang termasuk dalam data kehilangan tutupan pohon akibat kebakaran dan apa yang baru tahun ini?

Data UMD juga mencakup kehilangan tutupan pohon akibat kebakaran, yang membedakan kehilangan langsung tutupan kanopi pohon yang dipicu kebakaran dari semua kehilangan tutupan pohon lainnya — baca lebih lanjut tentang apa yang tercakup dalam data tersebut. Data ini memungkinkan kami lebih memahami bagaimana kebakaran berdampak pada kehilangan tutupan pohon. 

Tahun ini, data menunjukkan kehilangan hutan primer tropis yang dipicu kebakaran menurun sebesar 50% pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024, yang mengalami kebakaran yang memecahkan rekor di seluruh daerah tropis, terutama di Amerika Latin. Kehilangan akibat kebakaran pada tahun 2025 mencakup beberapa kebakaran di akhir musim 2024 (misalnya kebakaran yang terjadi November hingga Desember) yang sering kali terdeteksi pada tahun berikutnya karena asap yang menghalangi observasi satelit dan menunda deteksi kehilangan tutupan pohon. Pelajari lebih lanjut tentang temuan kami dari data 2025 di sini.

Apa perbedaan antara kehilangan tutupan pohon dengan deforestasi dan apa artinya untuk perbandingan dengan sistem pemantauan lainnya?

Deforestasi biasanya mengacu pada perubahan hutan menjadi penggunaan lahan lain secara jangka panjang oleh manusia. Kehilangan tutupan pohon sebagaimana didefinisikan dalam data UMD mencakup kehilangan yang secara luas dianggap sebagai deforestasi, seperti konversi hutan alam menjadi lahan pertanian, serta kehilangan yang biasanya tidak dianggap sebagai deforestasi, seperti pemanenan kayu di hutan perkebunan atau gangguan alam — baca lebih lanjut tentang perbedaannya

Meskipun kehilangan tutupan pohon tidak secara langsung mengukur deforestasi, dalam beberapa kasus kami menggunakan proksi untuk deforestasi, seperti di Pelacak Target Deforestasi dan Restorasi di Global Forest Review tempat kami menggunakan data tentang pendorong kehilangan tutupan pohon untuk memperkirakan berapa banyak kehilangan yang disebabkan oleh manusia dan berlanjut dalam waktu yang lama. 

Perbedaan antara definisi kehilangan yang digunakan oleh data UMD dan definisi yang digunakan oleh set data lainnya penting untuk dipertimbangkan ketika membandingkan kehilangan tutupan pohon dengan perubahan hutan yang dilaporkan oleh jenis sistem pemantauan lainnya. Perbedaan umum lainnya antara set data dapat mencakup data acuan awal pemantauan hutan, area minimum yang diukur, periode dan metode pelaporan – pelajari lebih lanjut tentang perbedaan ini

Misalnya, data kehilangan tutupan pohon dihasilkan dengan menggunakan citra satelit dan dengan demikian memantau perubahan biofisik yang dapat dilihat dari citra ini. Hal ini bisa jadi berbeda dari definisi resmi negara tentang “hutan” dan “perubahan hutan,” yang sering kali menggabungkan kriteria biofisik dan penggunaan lahan. Misalnya, definisi Food and Agriculture Organization (FAO), yang kadang-kadang digunakan dalam definisi negara, tidak hanya menetapkan ambang batas minimum untuk ketinggian, tutupan kanopi, dan cakupan pohon, tetapi juga mewajibkan lahan secara resmi atau sah ditetapkan untuk “penggunaan hutan,” seperti konservasi atau panen — yang tidak dapat diamati secara langsung dalam citra satelit. Baca lebih lanjut tentang perbedaan antara data FAO dan GFW

Baca terus untuk mengetahui bagaimana perkiraan kehilangan tutupan pohon kami dibandingkan dengan beberapa perkiraan lain untuk tahun 2025. 

Bagaimana kehilangan tutupan pohon pada GFW dibandingkan dengan perkiraan lainnya?

Brasil – PRODES

PRODES — sistem pemantauan hutan resmi untuk Amazon dari Lembaga Nasional Penelitian Tata Ruang Brasil (National Institute for Space Research, INPE) — dan data UMD memiliki perbedaan dalam definisi dan metodologi yang penting untuk dipahami saat membandingkan keduanya. PRODES mengukur deforestasi tebang habis dan kehilangan hutan yang disengaja oleh manusia dengan luas lebih dari 6,25 hektare (ha), sedangkan UMD mencatat kehilangan — baik karena sebab alami maupun manusia — dengan luas lebih dari 0,09 hektare terhadap pohon-pohon yang tingginya lebih dari lima meter. Keduanya merupakan ukuran penting yang membantu kita memahami bagaimana hutan terus berubah, entah karena deforestasi, kebakaran hutan, maupun gangguan kecil pada kanopi hutan, semuanya dapat berdampak pada iklim, keanekaragaman hayati, dan jasa ekosistem.

Perbedaan penting lainnya adalah kedua set data tersebut mencakup periode observasi yang berbeda. PRODES mencakup 12 bulan antara Agustus hingga Juli setiap tahunnya (tahun observasi terakhir adalah Agustus 2024 hingga Juli 2025), sementara data UMD mencakup tahun kalender (Januari–Desember 2025). 

Selain itu, INPE memiliki sistem yang secara khusus memantau dan melaporkan kebakaran (baik di dalam maupun di luar hutan). Sebagai contoh, Program Queimadas INPE memantau kebakaran aktif dan area-area yang terbakar. Peringatan DETER INPE — yang melacak deforestasi dan degradasi setiap hari — memisahkan peringatan terkait kebakaran hutan dari bentuk degradasi lainnya dan juga dari deforestasi.

Untuk membandingkan kedua set data ini, kami mengambil beberapa langkah untuk memperhitungkan perbedaan-perbedaan tersebut. Pertama, kami memisahkan kehilangan hutan primer akibat kebakaran dan nonkebakaran dalam data UMD, karena PRODES tidak mencakup jenis kehilangan yang dipicu kebakaran seperti yang diambil oleh data UMD. Kedua sistem pemantauan menunjukkan penurunan antara 2024 dan 2025 di Amazon Brasil — penurunan 41% kehilangan hutan primer nonkebakaran dari UMD, dan penurunan deforestasi sebesar 12% dari PRODES. 

Kedua, untuk memperhitungkan unit pemetaan minimum 6,25 ha yang digunakan oleh PRODES, kami menerapkan unit pemetaan minimum 6,25 ha pada kehilangan hutan primer nonkebakaran tahunan UMD untuk memisahkan area-area kehilangan menjadi beberapa petak yang kurang dari 6,25 ha, dan yang lebih dari atau sama dengan 6,25 ha. Ketika memperhitungkan ukuran petak, kehilangan hutan primer nonkebakaran UMD dengan luas lebih atau sama dengan 6,25 ha menurun sebesar 39%, dan kehilangan hutan primer nonkebakaran dengan luas kurang dari 6,25 ha menurun sebesar 43%.

Brasil – MapBiomas

MapBiomas Brazil merupakan jaringan LSM, universitas, dan perusahaan rintisan teknologi yang mengembangkan peta tahunan tutupan lahan dan penggunaan lahan, serta berbagai produk pemantauan dan peringatan bulanan. Sejak tahun 2019, mereka telah menghasilkan laporan tahunan mengenai deforestasi di Brasil melalui sebuah inisiatif yang disebut MapBiomas Alerta. Data tersebut dihasilkan dengan menggabungkan data peringatan deforestasi dari berbagai sistem pemantauan independen (misalnya, SAD) dan resmi (misalnya, DETER dan PRODES) dan kemudian memvalidasi dan menyempurnakan batas-batas spasial dari peringatan-peringatan tersebut melalui inspeksi visual citra satelit resolusi tinggi.   

MapBiomas Alerta dan data UMD memiliki perbedaan penting dalam definisi dan metodologi yang memengaruhi cara mereka mengukur kehilangan hutan di Brasil. Data MapBiomas hanya berfokus pada penghilangan lengkap vegetasi asli (termasuk hutan, sabana, dan padang rumput) dan tidak mencakup kehilangan akibat kebakaran, penebangan selektif, perladangan berpindah, dan bentuk gangguan parsial lainnya; sedangkan data UMD mencakup semua jenis kehilangan tutupan pohon yang lebih besar dari 0,09 ha terlepas dari pemicunya, termasuk peristiwa alam maupun yang disebabkan manusia, dan mendeteksi kehilangan lengkap maupun sebagian ketika setidaknya setengah dari tutupan kanopi dalam piksel 30 m hilang. Selain itu, UMD menggunakan algoritme yang sepenuhnya otomatis untuk mendeteksi perubahan, sementara MapBiomas secara visual memverifikasi dan menyempurnakan peringatan dari berbagai sistem yang menggunakan metode deteksi yang berbeda. 

Untuk memperhitungkan perbedaan ini sebelum membandingkan kedua set data, kami menggunakan ambang kerapatan kanopi 10% sebagai data acuan awal untuk menghitung kehilangan tutupan pohon — alih-alih ambang batas 30% yang biasanya kami gunakan untuk sebagian besar negara dalam analisis kami — untuk memperhitungkan kehilangan di ekosistem Brasil yang jarang berpohon, yang tercakup dalam data MapBiomas. Kami menggunakan kelas vegetasi alami di peta tutupan lahan MapBiomas Brasil 2018 (koleksi 10) sebagai data acuan awal analisis. Kami juga memisahkan kehilangan akibat kebakaran dari kehilangan nonkebakaran dalam data UMD, karena serupa dengan PRODES, MapBiomas Alerta tidak mencakup jenis kehilangan akibat kebakaran yang diambil oleh data UMD. 

Kehilangan nonkebakaran UMD menunjukkan tren yang sama dengan data MapBiomas Alerta dari 2019-2025. MapBiomas Alerta menunjukkan penurunan deforestasi sebesar 30% antara 2024 dan 2025, serupa dengan penurunan kehilangan nonkebakaran UMD sebesar 25%. Meskipun data UMD menunjukkan jumlah keseluruhan kehilangan nonkebakaran yang lebih tinggi selama periode tersebut, hal ini kemungkinan disebabkan oleh dimasukkannya penebangan selektif, perladangan berpindah, dan jenis kehilangan lainnya (termasuk kehilangan parsial) yang tidak termasuk dalam MapBiomas Alerta. 

Kolombia – SMByC

Sistem Pemantauan Hutan dan Karbon Kolombia (SMByC), sistem pemantauan hutan resmi yang dipimpin oleh Institut Hidrologi, Meteorologi, dan Studi Lingkungan (IDEAM), menghasilkan statistik deforestasi tahunan resmi, yang biasanya dirilis pada bulan Juli setiap tahun, serta buletin triwulanan yang memberikan informasi tentang deteksi dini deforestasi, dengan fokus khusus pada Amazon Kolombia. SMByC memantau perubahan pada hutan alam, yang mencakup hutan primer dan sekunder tetapi tidak termasuk hutan perkebunan dan pohon yang ditanam untuk produksi pertanian, dan mendefinisikan deforestasi sebagai segala jenis konversi hutan menjadi tutupan lahan lainnya. Statistik deforestasi tahunan resmi dihasilkan dengan menggunakan algoritme untuk mendeteksi perubahan dengan citra satelit, yang kemudian dinilai secara visual dan disempurnakan melalui berbagai langkah kontrol kualitas. 

Meskipun statistik deforestasi resmi untuk tahun 2025 belum dirilis oleh IDEAM, SMByC telah merilis perkiraan deforestasi awal untuk tahun 2025 untuk departemen-departemen di Amazon berdasarkan sistem deteksi dini deforestasi. Perkiraan awal ini melaporkan deforestasi sebesar 72.000 ha di Amazon, sedikit lebih tinggi dari kehilangan hutan primer UMD di wilayah ini (68.000 ha). Namun demikian, perkiraan ini dapat direvisi setelah statistik deforestasi resmi dirilis akhir tahun ini. Secara umum, kehilangan hutan primer UMD dan statistik deforestasi tahunan resmi SMByC menunjukkan tren serupa dan luas kehilangan hutan di Amazon dalam beberapa tahun terakhir. Perbedaan dalam dua set data untuk tahun tertentu mungkin disebabkan oleh perbedaan waktu deteksi peristiwa kehilangan pada akhir musim antara kedua sistem, serta perbedaan metode, seperti algoritme yang digunakan untuk mendeteksi perubahan serta acuan awal hutan alam SMByC.  

Indonesia – SIMONTANA

Data deforestasi resmi  tahun 2025 dari Kementerian Kehutanan Indonesia melalui Sistem Pemantauan Hutan Nasional (SIMONTANA) belum dipublikasikan, tetapi informasi tentang sistem pemantauan ini dan bagaimana perbandingannya dengan data UMD dapat ditemukan di sini.

Indonesia – Auriga Nusantara

Auriga Nusantara adalah organisasi nirlaba lingkungan di Indonesia yang memantau perubahan tutupan hutan dan mengoordinasikan prakarsa MapBiomas di tingkat nasional. Lembaga ini memantau dan melaporkan hilangnya tutupan hutan alam, yang mencakup hutan primer dan sekunder tetapi tidak termasuk hutan tanaman industri maupun hutan tanaman lainnya. 

Data dihasilkan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi dugaan kehilangan hutan menggunakan peringatan deforestasi UMD dalam cakupan hutan alam MapBiomas, membuat kotak pembatas yang lebih besar di sekitar peringatan, dan menjalankan model pembelajaran mendalam menggunakan citra satelit Sentinel-2 10-m dalam kotak pembatas untuk mendeteksi tingkat kehilangan hutan. Inspeksi visual pada area yang lebih besar dari 1 ha dilakukan untuk memverifikasi apakah terjadi kehilangan hutan dan menghilangkan kesalahan. Data mencakup kehilangan hutan lebih dari 0,25 hektar. 

Sejak 2025, Auriga telah menerapkan metode baru untuk pemantauan hutan yang menangkap gangguan hutan tahunan dengan lebih baik. Selain itu, Auriga menggunakan data acuan awal hutan alam untuk analisisnya yang diperbarui setiap tahun untuk menangkap hutan primer dan hutan sekunder yang beregenerasi. Untuk memperhitungkan perbedaan data acuan awal dengan lebih baik, kami mengambil langkah tambahan sebelum membandingkan set data. Kami menggunakan kelas vegetasi hutan alam di peta tutupan lahan MapBiomas Indonesia 2022 (koleksi 3) sebagai acuan awal dan menyertakan semua kehilangan tutupan pohon (tanpa ambang batas kerapatan kanopi yang diterapkan) untuk menangkap potensi kehilangan dalam hutan sekunder yang tumbuh kembali. Kami juga menerapkan unit pemetaan minimum 0,25 ha untuk data kehilangan tutupan pohon UMD. Akhirnya, kami menggunakan data hutan primer tropis lembap UMD untuk memisahkan hutan primer dari hutan sekunder dalam cakupan hutan alam MapBiomas. 

Dalam semua hutan alam (baik primer maupun sekunder), total kehilangan tutupan pohon UMD untuk tahun 2025 (dengan memperhitungkan unit pemetaan minimum 0,25 ha) adalah 410.000 hektare, yang serupa dengan jumlah kehilangan hutan yang dilaporkan oleh Auriga (434.000 hektare). Peningkatan antara 2024 dan 2025 adalah 17% untuk hutan primer dan 20% untuk hutan sekunder. 

Termasuk hutan sekunder dan memperhitungkan unit pemetaan minimum 0,25 ha menunjukkan keselarasan yang lebih dekat antara dua set data. Perbedaan lebih lanjut dalam hasilnya kemungkinan disebabkan oleh pembaruan metodologi Auriga Nusantara, penggunaan acuan awal yang diperbarui setiap tahun, dan perbedaan metode lainnya, yang mencakup citra satelit masukan dan resolusi spasial yang berbeda.

Hutan Hujan Tropis JRC

Set data Hutan Hujan Tropis (Tropical Moist Forest, TMF) dari European Commission Joint Research Center (JRC) memantau perubahan hutan di daerah tropis. Seperti data kehilangan tutupan pohon UMD, data TMF menggunakan citra Landsat untuk memetakan gangguan hutan setiap tahunnya pada skala piksel 30 meter. Namun, terdapat beberapa perbedaan utama antara kedua set data — baca perbandingan mendalam kami di sini.

Secara umum, data TMF mendeteksi area gangguan yang lebih luas dibandingkan dengan data kehilangan hutan primer tropis UMD karena klasifikasi degradasinya mencakup gangguan yang tidak memenuhi definisi kehilangan yang digunakan dalam data UMD, seperti pembersihan kurang dari setengah tutupan pohon dalam piksel 30 meter atau gangguan yang terdeteksi dalam periode yang sangat singkat. 

Data TMF JRC dan data kehilangan hutan primer tropis UMD menunjukkan tren serupa dalam beberapa tahun terakhir, dengan kedua kumpulan data menunjukkan penurunan gangguan antara 2024 dan 2025: Data TMF JRC menunjukkan penurunan gangguan sebesar 45% di seluruh daerah tropis, serupa dengan penurunan kehilangan hutan primer UMD sebesar 36%. Setelah memisahkan kehilangan hutan primer tropis UMD akibat kebakaran, karena kebakaran diklasifikasikan sebagai degradasi hutan dalam data JRC TMF, perkiraan kehilangan hutan primer tropis nonkebakaran UMD pada tahun 2025 memiliki besaran yang sangat miripdengan perkiraan deforestasi total JRC TMF — keduanya sekitar 2,7 juta hektare. Namun demikian, perlu dicatat bahwa perbedaan antara data degradasi dan deforestasi JRC TMF untuk tahun 2024 belum sepenuhnya terkonsolidasi karena tidak tersedianya cukup waktu untuk mengonfirmasi pemulihan hutan pascagangguan atau gangguan permanen.

Sistem pemantauan ini memberikan informasi pelengkap yang — ketika memahami definisi, ruang lingkup dan metode setiap sistem serta mengevaluasinya bersama — dapat menawarkan pandangan yang bernuansa dan holistik tentang bagaimana hutan berubah. 

Baca analisis lengkap kami tentang data kehilangan tutupan pohon tahun 2025 di Global Forest Review.

Explore More Articles

Screenshot 2026-04-28 144619
Apr 29, 2026|Data & Tools|11 minutes

Global Forest Watch’s 2025 Tree Cover Loss Data Explained 

New data shows that policy action can help reduce forest loss. What does the data measure and how does it compare to other official data?

model_output__net_flux__4km_aggregation_tcd30_model_v1.4.3_20260327
Apr 29, 2026|Data & Tools|9 minutes

What’s New With GFW’s Forest Carbon Monitoring

Carbon monitoring data on GFW provides information on where forests are gaining or losing carbon. Read about the latest updates to the model.

DIST-ALERT on GFW
Mar 20, 2026|Data & Tools|6 minutes

Near-Real-Time Disturbance Alerts for All Vegetation Globally are Now Available on GFW

A new global alert system on GFW, DIST-ALERT, provides alerts within forests globally as well where other ecosystems are disturbed.

Explore More Articles
Screenshot 2026-04-28 144619
Apr 29, 2026|Data & Tools|11 minutes

Global Forest Watch’s 2025 Tree Cover Loss Data Explained 

model_output__net_flux__4km_aggregation_tcd30_model_v1.4.3_20260327
Apr 29, 2026|Data & Tools|9 minutes

What’s New With GFW’s Forest Carbon Monitoring

DIST-ALERT on GFW
Mar 20, 2026|Data & Tools|6 minutes

Near-Real-Time Disturbance Alerts for All Vegetation Globally are Now Available on GFW

fetching comments...